"Wise people live happily in service. With 7 billion going to 9 billion people worldwide, winner-take-all mindsets, systems and ideologies will become obsolete. Instead, learn to live in service to other people while unleashing your life’s passion in the process."
Robb Smith, medium.com

Universally Veggies

By eating them within 365/day cycles

Universe awareness will fill your soul gradually

Your compassion will engulfs those tainted heart

Your body will alert accurately against the pollution of reality

You easily grab the clarity of your purpose, when you forget

And the re-awakening to remind us of our duty for the universe,

not just only for a single individual dream.

Yours, our beloved, people, community, the earth.

Taste these green blessing,

Bitter flavour for the healthy soul, body and mind.

To feel that we are part of the grand cycle.

Kevin Richardson. The Lion Whisperer. Hope someday, more and more people become ‘whisperer’

Kevin Richardson. The Lion Whisperer. Hope someday, more and more people become ‘whisperer’

Arogan

Saya arogan karena:

- sudah memilah tempat sampah organik/non-organik di rumah meskipun saya tahu ujung2nya akan disatukan juga di TPA

- mengikuti aturan ibu di rumah membuang sampah makanan ke lubang khusus di tanah (biopori)

- tidak memakai tisu restoran kalau tidak perlu2 amat

- memakan sayuran yang sering dimaksudkan untuk ‘hiasan’

- sebisa mungkin tidak memakai plastik, kecuali belanjaan besar

- memakai bekas packaging snack/kardus untuk pot bunga

- memakai kertas bekas (kosong satu sisi) untuk sketsa, sebisa mungkin tidak di kertas polos untuk ‘sekedar’ sketsa saja

Yap. Izinkan saya arogan untuk hal-hal lingkungan ini, karena sering saya dapati orang-orang di luar sana mencibir, "omong besar tapi mana buktinya!?". Nih saya sudah buktikan sedikit dedikasi saya untuk merubah lingkungan DIMULAI DARI DIRI SENDIRI yang sering orang pada umumnya tuntut. Tapi bisa jadi daftar arogan tadi malah berbalik "sok benar kamu, sombong, ya ga usah koar-koar juga". Apapun itu, lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa, bukan? 

Saya jadi bertanya-tanya saja, kenapa, khususnya lingkungan Indonesia, mudah sekali alergi terhadap hal-hal yang sudah jelas manfaatnya, sementara kalo dapet musibah misuh-misuh sendiri menyalahkan orang. Saya disini tidak memaksa untuk mengaku menjadi ‘environmentalist’, tapi, bisakah ada kesadaran mental untuk tidak merusak?

Bisakah ada kesadaran mental untuk peka sama lingkungan?

Bisakah ada kesadaran bahwa kita semua bukan individu hebat yang sering digaungin sama free-liberal-freedom-kapitalis, tapi bagian dari sistem besar (nope, bukan maksud ngebawa ke komunis/sosialis, ga paham ane hahaha).

Yuk kita bareng2 sadar, coba baca berita anomali cuaca, topan sering muncul, suhu makin panas, pembantaian merajalela, semuanya bikin dampak yang dalam sehari2 cukup gampang kita temuin:

- orang cepet emosian di jalan, main tikung sana-sini karena ga merasa ‘secure’

- bahan makanan mahal dan susah didapet karena habitat sumber makanan ga ada yang mau rawat, di exploit aja terus

- pesawat/kapal delay karena cuaca

dan perasaan2 negatif lainnya karena kita-kita cenderung ignore sama lingkungan besar.

Maaf kalau sok benar jadi orang, tapi yuklah peka sama lingkungan. Metode bisa beda-beda tergantung masing-masing. Ga usah “yah biar orang lain aja”, coba pikir, minimal di kota tempat lu tinggal aja, berapa juta orang rata2 mikir gitu (thks nadin ngingetin poin ini). Ga usah peduliin dulu dunia politik yang seringnya jadi alat eksploitasi dan merasa dewa, namanya juga harus dimulai dari diri sendiri.

Selain itu, izinin saya arogan buat maraneh2 yang ga mau peka lingkungan, karena walaupun ga sempurna atau bisa dibilang pencitraan, saya berusaha sadar kalau saya hidup bareng berbagai macam makhluk hidup dan alam di satu planet ini, IBU BUMI. Silahkan lempar cap ‘sok idealis’ begitu-begitu kalau berkenan. 

fts-peace:

Cagalli.
By: Dacapo

fts-peace:

Cagalli.

By: Dacapo

.Teman.

Waktu terus berjalan, saat ini kita lagi piyik-piyiknya masih ngompol sembarangan, beberapa waktu kemudian sudah gaya menenteng tas Dora the Explorer campur Power Ranger ke sekolah dasar. Rentang waktu kemudian, menjadi remaja labil sekolah menengah, untuk kemudian mengasah kelabilannya ke tingkat yang lebih matang dan berkelas, sekolah menengah atas. Dan tahu-tahu sudah lulus wisuda perguruan tinggi saja, siap terjun ke rimba nafkah.


Di semua tahap tersebut, selalu kita ditemani sosok yang namanya teman, tanpa embel-embel lebih lanjut (teman baik, best friend, sobat, dll) karena embel-embel itu tergantung wewenang si pemberi embel terhadap sosok teman tersebut. Orang bilang pertemanan atau persahabatan masa sekolah itu indah, nakal bersama, bermain bersama, susah bersama dan melakukan kegiatan bodoh lainnya yang diklaim sulit dilakukan lagi oleh kaum-kaum manusia dewasa.

Berkaca dari pengalaman, sembari mengintip album-album foto zaman-zamannya norak pamer foto di facebook, perasaannya sungguh surprising.

Berada dalam situasi keheranan dimana merasa pernah berteman dengan teman A misalnya, pernah berfoto bersama, atau makan bareng bersama si B sewaktu dulu, rasanya seperti hilang ingatan. Hilang ingatan, memangnya sinetron? Tidak, tapi bingung aja gitu kalau melihat momen sekarang, sosok A & B adalah total stranger dan bahkan bertegur sapa kalau bertemu langsung pun sungkan, entah dari keduanya atau ada salah satu yang ‘mager nyapa’. 

Amazing bukan, hubungan manusia di suatu waktu merasa dekat seperti sahabat berjodoh, di lain waktu seperti orang yang baru kenal. Katakanlah statement ini muncul dari orang yang pesimis. Dari sini mungkin muncul suatu keyakinan, teman datang dan pergi, membawa sebongkah memorinya masing-masing, baik ukuran besar maupun kecil

Semakin amazing lagi, nila setitik rusak susu segelas milo, naon. Pernahkah berada dalam situasi merasa hebat atau bahagia, membandingkan situasi diri dengan kondisi teman lain yang bisa dibilang ‘tidak asyik’ dan ‘tidak menarik’. Dan di dalam perwujudan rasa hebat (atau mungkin mendominasi) itu, seperti memiliki hak untuk merendahkan keadaan teman tersebut? Yakin sih, perasaan itu sungguh nagih, memberi asupan kepercayaan diri tersendiri, bukan? Oh, coba tambahkan bumbu-bumbu nyinyir biar sensasinya semakin dahsyat.


Orang bilang, membangun kepercayaan diri itu sulit. Ah gampang saja padahal, tinggal pintar-pintar saja menemukan titik kelemahan seorang teman yang dianggap ‘tidak asyik’, ‘tidak kaya’, atau tidak-tidak yang lainnya untuk dijadikan bahan cibiran canda masa muda. Seluruh teman lainnya yang sependapat akan langsung setuju, mendukung dengan penuh kebanggaan dan bahagia karena tumbuhnya solidaritas. Apapun kekurangan teman ‘tidak asyik’ itu semuanya potensial untuk dijadikan bahan solidaritas, sungguh! Manusia itu makluk sosial kan, maka menjaga percaya diri salah satunya adalah dengan membangun solidaritas! 

Jangan biarkan usaha memupuk kepercayaan diri dan membangun solidaritas itu terganggu oleh fakta-fakta dibalik latar belakang teman ‘tidak asyik’ tersebut. Gagal kalau-kalau mengetahui alasan dibalik ketidak asyikan si teman tersebut gara-gara latar belakangnya yang kurang mengenakkan, masalah finansial, keluarga atau berbagai faktor lainnya. Faktor asyiknya berkurang banyak, jadi jangan biarkan kamu tahu. Enjoy saja!

Ah teman, iya semua orang membutuhkan teman. Membutuhkan teman untuk membangun kepercayaan diri sendiri, entah dengan cara apa dan yang seperti bagaimana. Mau teman yang baik, kurang asyik, kurang gaul, kaya, miskin, aktivis, lemah, kuat, dan banyak lainnya, teman akan selalu ada. Semua itu teman. Datang dan pergi.

Gila, tulisan ini sebenernya lagi nyepet. Nyepet untuk orang-orang yang suka nyepet dan hobi membuang teman hanya karena masalah sepele yang personal ultra subjektif. Arogan amat sih jadi orang. Hahahaha.

Bukan, ini berdasarkan pengalaman pribadi dan curahan berbagai macam pengalaman manusia yang saya temui. Yang menderita ga saya aja kok (takut gitu dicap ga asik :P), Ya udah yang penting guenya berniat jadi orang baik-baik aja. Nah elu yang baca maunya kayak gimana? Apapun itu teman datang dan pergi. Saya sih berdoa aja semoga kedepannya dan seterusnya mendapat lebih banyak bongkahan memori yang baik dari datang-perginya sesosok ‘teman’. Tentu saja sayanya juga harus memberi bongkah yang manis :). Amin lah.

Suatu hari, saya ingin bikin game storytelling yang indah seperti Legend of Mana, dengan inspirasi Indonesia.  Beautiful, sadness, pain and hope.
Game ini udah permanen menetap di hati saya sejak masa kecil :’)

Suatu hari, saya ingin bikin game storytelling yang indah seperti Legend of Mana, dengan inspirasi Indonesia.  Beautiful, sadness, pain and hope.

Game ini udah permanen menetap di hati saya sejak masa kecil :’)

IMPATIENT.COME HERE.NOW.FAST.
YOU ARE THE PROOF THAT THERE IS NO SUCH THINGS CALLED FINAL SEMESTER TEST.

IMPATIENT.COME HERE.NOW.FAST.

YOU ARE THE PROOF THAT THERE IS NO SUCH THINGS CALLED FINAL SEMESTER TEST.

antieverythingism:

Esfahan, Iran.

antieverythingism:

Esfahan, Iran.