Suatu hari, saya ingin bikin game storytelling yang indah seperti Legend of Mana, dengan inspirasi Indonesia.  Beautiful, sadness, pain and hope.
Game ini udah permanen menetap di hati saya sejak masa kecil :’)

Suatu hari, saya ingin bikin game storytelling yang indah seperti Legend of Mana, dengan inspirasi Indonesia.  Beautiful, sadness, pain and hope.

Game ini udah permanen menetap di hati saya sejak masa kecil :’)

IMPATIENT.COME HERE.NOW.FAST.
YOU ARE THE PROOF THAT THERE IS NO SUCH THINGS CALLED FINAL SEMESTER TEST.

IMPATIENT.COME HERE.NOW.FAST.

YOU ARE THE PROOF THAT THERE IS NO SUCH THINGS CALLED FINAL SEMESTER TEST.

antieverythingism:

Esfahan, Iran.

antieverythingism:

Esfahan, Iran.

Fire & Water. You and Me. Simply US

Fire & Water. You and Me. Simply US

yoshitaka amano

yoshitaka amano

beautiful darkside

beautiful darkside

Mempertanyakan kecepatan

Zaman saat saya dan generasi saya hidup ini adalah zaman post-modern (gaya bener bahasanya). Sedangkan sebelum post modern, ada zaman modern, dimana sebagian besar paham orang-orang pada umumnya mengagungkan kerasionalitasan dan membuang jauh-jauh hal berbau masa lampau—-kasarnya sih begitu (berdasarkan opini dari pacar saya yang notabene belajar hal-hal kyk gitu di prodi seni rupanya)

Blah-blah-blah, pokoknya begeto. Terus apa hubungannya sama curhatan saya sekarang? Ada sih, curhatan idealisme lagi (again, *sigh*) dan mempertanyakan aja gimana dunia sekarang saya tinggal berputar betapa cepatnya. Ya, dari kehidupan saya sehari-hari sih sebagai mahasiswa dkv pada umumnya.

Sekarang, saya dan teman-teman saya udah menginjak tahun ketiga. Tahun dimana kayaknya sih ya udah mulai galau masa depan tingkat tinggi, dan mempertanyakan banyak hal soal aktualisasi diri, dengan cara yang bermacam pula. Tahun dimana perbedaan-perbedaan individual itu semakin nyata, dan ancang2 senior yang bilang kekeluargaan itu penting soalnya kalo udah prodi masing-masing kalian bakal kepecah-pecah, itu sangat nyata terjadi adanya. Mau sesohib apapun juga, namanya udah mulai menapaki fase mandiri mah yaa ujung-ujungnya udah berjuang sendiri, mencari jalan sendiri, yang ga jarang menjalani prosesnya, banyak nemuin perseteruan karena udah beda pemahaman.

Nah balik lagi, sama kehidupan sehari-hari saya di dkv, ahahaha. Ya dkv, prodi dimana kami mengaplikasikan ilmu desain untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat khususnya dalam hal ngolah2 grafis untuk jadi sesuatu yang komunikatif. Proyekan udah sering jadi makanan kami sehari-hari. Proyekan itu ibaratnya kayak nyari pengalaman kerja sama klien nanti, dan kalo boleh jujur, untuk tahun ketiga sekarang, atmosfirnya sih dirasa, proyekan lebih banyak manfaat pelajarannya dari kuliah *maaf bapak dan ibu dosen, tapi ini realita, ahaha*.

Oh sebelumnya, dibahas dlu kali ya tipe-tipe orientasi mahasiswa, baik di dkv, maupun secara general kayaknya sama-sama aja. Santay, ambisius proyekan, akademik, aktivis, nongkrong gaul, dsbnya. (ga bermaksud mengkotak-kotakan, tapi emang begitu kira-kira penggolongan orientasi mahasiswa pada umumnya). Saya ga bermaksud memihak salah satu golongan itu lebih baik atau apa, dan kalo saya sendiri pernah berada di posisi ambisius proyekan, dan sekarang kayaknya lagi memilih santai (Ahahaha)

Tapi ada sesuatu yang menggelitik nih di hati saya, yah, di dkv di mana kondisinya kami semua lagi mencari proyekan sebanyak-banyaknya, dan tentunya karena skill teknis kita juga udah layak dan cukup matang lah untuk layanan jasa ke masyarakat pada umumnya, kesempatan emas banget! :). Tentunya ini positif, karena secara ga langsung kita udah nyicipin sedikit gambaran dunia kerja kedepannya gimana. Jadi apa sih yang menggelitik buat saya?

Yang menggelitik adalah, saya pribadi (sementara dari sudut pandang, mungkin subjektif saya) merasa, sepertinya ada banyak hal yang hilang deh. Berkaca dari pengalaman sendiri dan maaf, pengamatan dari beberapa teman, mungkin kalau kadarnya terlalu banyak, seolah-olah proyekan kalau kadarnya terlalu tinggi, jadi ga peka sama sekitar, sering kali ga enjoy (atau bahkan ninggalin kuliah kalo mau ekstrim), keburu cape untuk memperhatikan hal lain dan lainnya. Dan itu saya pernah rasain sendiri waktu masih ambisius proyekan tahun kedua dulu ahahahaha.

Tahun ini, saya memilih untuk woles, ciyehh, dan ketika masa berhenti sebentar seperti ini, saya kayak ditampar, anjrit, “gw kemana aja, oh disini ada ini yah, hah temen gw udah nikah?, ya ampun gw lupa nama keluarga jauh gw yang kecelakaan itu om siapa namanya, aduh kok ngobrol kecil sama keluarga pas makan rasanya udah seneng banget ya? dsb.” Uh-oh saya ga pernah merhatiin beginian sewaktu dulu saya dibutakan dengan proyekan. :((. Dan efek buruknya, bisa dibilang saya jadi sok-sok idealis memandang sesuatu (apapun dipikirin @_@) sampe kadang-kadang melihat teman-teman saya yang melaju cepat, saya jadi suka merasa ketinggalan sendiri. :P

Sampai pada akhirnya tiba di suatu pertanyaan. Apakah ini ya cara bertahan hidup yang ideal untuk masa sekarang? Apa mengorbankan banyak hal untuk suatu pekerjaan itu indikator suatu keprofesionalitasan? Apa memikirkan hal-hal kecil di luar pekerjaan itu dosa besar karena sempitnya waktu? *Maaf kalau penuh kesubjektifitasan*. Kontras dengan pemahaman kalo kebutuhan manusia ga kerja aja, dia ada kebutuhan untuk bahagia, untuk waktu diri sendiri, untuk bersosial, dsb. Dan melihat dari realita dunia kerja, tampaknya, beberapa aspek dunia kerja sebagian besar mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan seperti itu. Dan sekali lagi saya bertanya-tanya, tidak profesionalkah saya kelak di dunia kerja kalau berpikiran seperti itu? Again, idealisme selalu jadi momok atau musuh besar kalau udah ketemu sama urusan perut.

Cerita-cerita berbagai macam drama keluarga makin membuat saya bertanya-tanya bodoh begini, seperti cerita teman saya, ada keluarga karir sukses gemilang, tapi anaknya jadi autis karena ga pernah diperhatiin orang tuanya, ada yang jadi keluarga berpengaruh di suatu kota, orangtua keduanya berprestasi, anaknya party-party melulu karena sendirian di rumah mewahnya yang besar, kosong ga ada interaksi hangat. Dan cerita-cerita klasik macam itu. Kalo pengalaman saya pribadi juga, saya sedang mengalami fase dimana *curhat ehe ehe* perbedaan pemahaman kadang bisa menjauhkan hubungan pertemanan, apapun bentuknya. Dimana teman-teman yang i consider them sebagai cycle of friend saya, perlahan-lahan melonggar dan sudah mencari tujuannya masing-masing. Merasa terlupakan? Kadang suka merasa begitu sih, tapi saya juga mungkin ga jauh beda. Saya menjauhkan diri saya dengan berpikir seperti ini, karena dengan berpemahaman sepert ini, ini tujuannya saya. Blah-blah seperti itu.~

Dan ada jeritan hati, untuk memilih peran menjadi orang yang mengcounter sudut pandang yang seperti itu. Maaf sebelumnya, mungkin ini bisa aja berasal dari ke ga capable-an saya dibanding teman-teman saya yang lain mungkin dalam segi teknis gambar, atau bosenan ga kuat mental proyekan dan berbagai macam alasan atas dasar “malas” lainnya, yang jadi salah satu pencetus saya memilih “pelarian” untuk memandang dari sudut pandang yang berseberangan. Namun, semakin kesini saya sampai pada kesimpulan, apapun penyebabnya, yah memang perlu sih pandangan yang berbeda biar ga terlalu berlebihan biar ga berkeberatan satu sisi. Dan alhamdulilah positifnya, memotivasi untuk bisa menghargai perbedaan orang lain sekontra-kontra apapun sama beda paham tersebut. *Ngelatih sabar mers ahaha*. Sampe deh saya menemukan kesimpulan dasar, keseimbangan. Perbedaan, ada buat ga pamenang-menang, tapi buat nyari seimbang. *Amin*

Kesimpulannya, yang saya pertanyakan adalah, walaupun semua aspek butuh pengorbanan, tapi pengorbanan kayak gimana yah yang bisa mendukung keseimbangan ideal individu masing-masing? Keseimbangan dengan pengorbanan seperti apa ya yang bisa menyeimbangkan orientasi manusianya sendiri dengan lingkungan sekitarnya? Loh kok bawa-bawa lingkungan? Masih jaman gitu? Aahaha, saya gatau, tapi mungkin pada dasarnya, manusia punya kebutuhan ga sadar untuk menjaga tempat mereka hidup, namun untuk ukuran zaman sekarang, tertutupi karena berbagai skala prioritas yang melaju cepat berlomba-lomba menjadi skala prioritas nomor satu.

Mungkin begitu, semoga jawaban pertanyaan2 idealis bodoh saya di atas bisa terjawab sendirinya, kelak, gimana waktu aja deh terserah hahaha. Bagi mungkin teman-teman yang membaca dan merasa tidak sepaham, yah mohon ampun! Bagaimanapun perbedaan pasti selalu ada, saya disini (berusaha) mencari keseimbangan yang saya pertanyakan, dan terakhirnya yah berpulang ke masing-masing aja, bagaimana memposisikan pribadi kita masing-masing ini ke dalam siklus dunia besar kita. Toh, Tuhan juga sudah mengatur peran kita sebagai khalifah di bumi ini jadi apa.

Harapannya? Berharap aja sih, semua orang dengan perbedaan-perbedaannya bukan untuk meniadakan atau memenangi (walaupun ga bisa dipungkiri naluri seperti itu ada), tapi memberi dan menyeimbangkan satu sama lain? Motivasi saya sendiri sebenarnya nulis ini? Pengen nyeimbangin atmosfer temen-temen dkv yang mungkin terlalu proyekan oriented. HAA! Blak-blakan ya maaf! >o<. Vice versa, saya juga butuh teman yang seperti itu biar saya ga woles lunglai amat. XD. Semoga aja perbedaan itu ga menjauhkan, ga saling membandingkan, tapi membantu nyari peran hidup kita masing-masing seperti apa. 

*maaf kalo banyak kata-kata yang kurang berkenan, dan kadar subjektif yang tinggi*

berantem

Dia, ngotot nyuruh aku potong pendek.

Katanya,biar strong & edgy

Saya, ngotot pingin rambut dipanjangin

sukur2 bisa gorgeous (terinspirasi hyde)

tapi hampir ga mungkin karena si ikal saya sangat bandel

Tapi tetep mau rambut panjang gorgeous :”((